Belakangan ini banyak brand yang tiba-tiba naik. Kontennya terasa aneh, kadang nyeleneh, tapi justru itu yang bikin orang berhenti scroll.
Kasus seperti Aldi’s Burger sering jadi contoh. Lalu muncul pola yang sama: banyak owner melihat hasilnya, lalu bertanya apakah gaya seperti itu bisa ditiru untuk mendapatkan hasil yang sama. Di titik ini, banyak brand mulai bergerak tanpa arah yang jelas.

Meniru gaya brand viral seperti Aldi’s Burger tidak otomatis membuat bisnis ikut sukses. Yang terlihat di permukaan biasanya hanya bentuk kontennya, bukan dasar strateginya. Jika sebuah bisnis hanya meniru gaya tanpa memahami identitas brand sendiri, komunikasinya akan tidak konsisten, sulit dikenali, dan cenderung terlihat seperti ikut-ikutan.
Kenapa Brand Seperti Aldi’s Burger Terlihat Unik tapi Sulit Ditiru?
Yang sering disalahpahami adalah orang mengira kekuatannya ada di ide kontennya.
Padahal bukan di ide. Tapi di pengulangan yang konsisten.
Aldi’s Burger tidak terus mengganti gaya. Mereka memakai pola komunikasi yang sama berulang kali—absurd, nyeleneh, dan tidak biasa. Lama-lama, audiens tidak lagi melihat itu sebagai konten yang unik, tapi sebagai cara brand itu “berbicara”.
Di titik ini, yang terbentuk bukan sekadar konten menarik, tapi karakter.
Masalahnya, banyak brand lain langsung meniru bentuk akhirnya tanpa membangun proses tersebut.
Apa yang Sebenarnya Terjadi Saat Brand Hanya Meniru Gaya Viral?
Di awal, hasilnya sering terlihat cukup baik. Konten terasa menarik, engagement bisa naik.
Tapi setelah itu mulai terlihat masalahnya.
Audiens mungkin pernah melihat kontennya, tapi tidak benar-benar mengingat brand-nya. Tidak ada pola yang bisa dikenali. Setiap konten terasa seperti percobaan baru.
Ketika ini terjadi, brand kehilangan konsistensi. Dan tanpa konsistensi, sulit membangun kepercayaan.
Kasus seperti ini sering muncul ketika gaya Aldi’s Burger ditiru hanya di permukaan, tanpa memahami kenapa gaya tersebut bisa bekerja.
Kenapa Banyak Brand Terjebak Ikut Gaya Tanpa Arah?
Masalah utamanya bukan di tren, tapi di urutan berpikir.
Banyak brand langsung fokus ke eksekusi: membuat konten yang menarik, mencoba berbagai gaya, mengejar perhatian. Tapi belum menjawab hal yang lebih dasar.
Brand ini ingin dikenal seperti apa?
Cara bicaranya seperti apa?
Batasannya di mana?
Ketika pertanyaan ini belum jelas, maka gaya apa pun yang dipakai akan mudah berubah. Hari ini pakai satu pendekatan, besok berubah lagi.
Akhirnya brand terlihat aktif, tapi tidak punya identitas yang konsisten.
Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Sebelum Mengikuti Tren?
Sebelum melihat keluar, brand perlu melihat ke dalam terlebih dulu.
Tentukan dulu arah dasarnya:
- ingin dilihat seperti apa
- bagaimana cara berbicara ke audiens
- apa yang tidak akan dilakukan
Setelah itu baru memilih gaya komunikasi.
Dengan fondasi yang jelas, brand bisa menggunakan gaya apa pun secara konsisten—termasuk gaya yang tidak biasa seperti Aldi’s Burger. Tanpa fondasi, gaya tersebut hanya akan terasa seperti tempelan.
Kesimpulan
Meniru gaya brand viral seperti Aldi’s Burger tidak akan memberikan hasil yang sama jika hanya menyalin permukaannya.
Yang membuat sebuah brand diingat bukan karena terlihat unik sesaat, tapi karena konsisten dalam cara berkomunikasi sampai audiens memahami karakternya.
Jika arah brand belum jelas, maka gaya apa pun yang ditiru tidak akan membangun posisi yang kuat.
Insight yang relevan dengan artikel:
Nielsen (Consumer Trust Study)
https://www.nielsen.com/insights/2015/global-trust-in-advertising/
Menjelaskan bagaimana kepercayaan konsumen terbentuk dari konsistensi komunikasi.