Apakah Terlalu Sering Diskon Membuat Pelanggan Tidak Loyal ke Brand?
Tapi kalau diperhatikan lebih jauh, ada pertanyaan yang sering terlewat:
yang datang itu benar-benar pelanggan, atau hanya orang yang sedang mencari harga terbaik?
Tapi kalau diperhatikan lebih jauh, ada pertanyaan yang sering terlewat:
yang datang itu benar-benar pelanggan, atau hanya orang yang sedang mencari harga terbaik?
Fenomena ini sangat terlihat di platform seperti Shopee. Keputusan belanja banyak dipengaruhi gratis ongkir, cashback, dan diskon. Di titik ini, penting membedakan: apakah ini loyalitas, atau hanya respons terhadap kondisi tertentu?
Namun di praktiknya, tidak sesederhana itu. Ada brand seperti Chatime yang tetap eksis dan stabil, tetapi dalam banyak situasi justru bukan yang pertama dipilih.
Di sinilah kebingungan itu muncul. Bisnis terlihat hidup di pasar, tetapi belum benar-benar menempati ruang yang jelas di pikiran pelanggan.
Sebuah brand melekat di ingatan konsumen karena memiliki posisi mental yang jelas dan konsisten, bukan karena seberapa sering ia muncul. Ketika sebuah brand tidak memberi makna yang tegas, konsumen tidak memiliki alasan untuk mengingatnya, meskipun sering berinteraksi dengannya.