Skip to content
Home » Insight » Kenapa Banyak Bisnis Ayam Geprek Tidak Diingat Pelanggan?

Kenapa Banyak Bisnis Ayam Geprek Tidak Diingat Pelanggan?

Dalam beberapa tahun terakhir, bisnis ayam geprek tumbuh sangat cepat. Hampir di setiap area ada. Dari skala kecil sampai yang sempat besar seperti Ayam Geprek Bensu dan Ayam Geprek Sa’i.

Namun kalau diperhatikan, hanya sedikit yang benar-benar diingat. Sisanya tetap ada, tapi tidak meninggalkan kesan yang kuat di kepala pelanggan.

Banyak bisnis ayam geprek tidak diingat pelanggan karena hanya menjual produk yang serupa tanpa membangun identitas yang jelas. Di luar brand seperti Ayam Geprek Bensu dan Ayam Geprek Sa’i, sebagian besar menawarkan menu, harga, dan pengalaman yang mirip, sehingga pelanggan tidak memiliki alasan spesifik untuk mengingat atau memilih kembali satu brand tertentu.

Ketika tidak ada perbedaan yang terasa, keputusan pembelian menjadi sederhana. Pelanggan tidak memilih berdasarkan nama brand, tetapi berdasarkan ketersediaan atau kedekatan.


Kenapa bisnis ayam geprek terlihat sama di mata pelanggan?

Sebagian besar pemain berada di titik yang hampir identik. Menunya tidak jauh berbeda, rasa berada di level yang “cukup”, dan harga saling berdekatan.

Situasi ini membuat pelanggan tidak melihat perbedaan yang berarti. Bukan karena semua buruk, tetapi karena semuanya terasa setara.

Ketika pilihan terlihat setara, pelanggan tidak merasa perlu mengingat satu nama secara khusus.


Kenapa pelanggan lebih mengingat “geprek” daripada nama brand?

Yang tertanam di pikiran pelanggan adalah kategori, bukan identitas.

Orang cenderung berpikir, “ingin makan geprek,” bukan “ingin makan di brand tertentu.” Ini terjadi karena tidak ada elemen yang cukup kuat untuk menempel sebagai pembeda.

Jika tidak ada alasan yang jelas untuk diingat, maka yang tersisa hanya jenis makanannya.


Apa yang membedakan brand seperti Ayam Geprek Bensu dan Ayam Geprek Sa’i?

Perbedaannya bukan semata di produk.

Brand seperti Ayam Geprek Bensu dan Ayam Geprek Sa’i hadir dengan sesuatu yang lebih mudah dikenali. Bisa berupa eksposur, figur di belakangnya, atau pengalaman yang konsisten.

Hal-hal ini membuat nama mereka lebih mudah melekat, bahkan ketika produknya berada di kategori yang sama dengan banyak kompetitor.


Apa dampaknya jika brand tidak diingat?

Bisnis tetap bisa berjalan, tetapi tidak memiliki posisi yang kuat.

Pelanggan tidak memiliki keterikatan. Perpindahan ke tempat lain terjadi tanpa pertimbangan panjang. Keputusan menjadi praktis, bukan preferensi.

Dalam kondisi seperti ini, bisnis menjadi mudah tergantikan karena tidak ada alasan yang cukup kuat untuk kembali.


Kesimpulan

Masalahnya bukan pada banyaknya bisnis ayam geprek di pasar.

Masalahnya adalah ketika semua terlihat mirip dan tidak memberikan alasan yang jelas untuk diingat.

Selama pelanggan hanya mengingat “geprek” tanpa mengingat siapa yang menjualnya, maka brand belum benar-benar terbentuk.

Insight yang relevan dengan artikel:

https://www.mckinsey.com/capabilities/growth-marketing-and-sales/our-insights/the-value-of-getting-personalization-right-or-wrong-is-multiplying
Sumber: McKinsey & Company
Relevansi: Membahas bagaimana diferensiasi dan pengalaman memengaruhi keputusan pelanggan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *